Musibah Kebakaran Pemukiman Kian Meningkat dan Mencemaskan

LayarSatu, Banda Aceh – Bencana di Aceh pada tahun 2019 mengalami peningkatan lebih 2 kali lipat dari tahun 2018. Dimana tahun 2018 tercatat hanya 362 kali kejadian bencana, sedangkan tahun 2019 naik menjadi 797 kali kejadian bencana. Adapun total kerugian mencapai lebih kurang  Rp. 168 miliar. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBA), Ir. Sunawardi. M.Si.

Pusat data dan informasi (Pusdatin) BPBA mencatat bencana yang paling banyak terjadi peningkatan dari tahun 2018 yaitu kebakaran pemukiman sebanyak 285 kali yang sebelumnya hanya terjadi 97 kali di tahun 2018 lalu. Hal yang sama terjadi pula pada Kebakaran Hutan dan Lahan yang terjadi peningkatan jumlah kejadian yakni sebanyak 220 kejadian dibandingkan pada tahun 2018 yang terjadi hanya 65 kali kejadian.

Kejadian bencana lainnya yang juga berdampak besar pada masyarakat setempat yakni kejadian bencana puting beliung yangterjadi 95 kali, banjir genangan70 kali, Longsor 26 kali, Banjir Luapan 24 kali dan gempa bumi berkekuatan sekitaran 5,0-5,3 SR sebanyak 14 kali.

Wilayah yang paling banyak mengalami kejadian Bencana di Tahun 2019 adalah Kabupaten Aceh Besar (138 kejadian), disusul Gayo Lues (50 kejadian), Aceh Selatan (49 kejadian), Aceh Barat (48 kejadian), Aceh Jaya (48 kejadian), Aceh Utara (44 kejadian) Bireuen (43 kejadian) dan Aceh Tengah (40 kejadian).

Kebakaran pemukiman paling banyak terjadi di Aceh Besar sebanyak 44 kali kejadian, Aceh Utara 24 kali dan Aceh Tengah 18 kali kejadian. Kebakaran Hutan dan Lahan juga masih banyak terjadi di Aceh Besar, Gayo Lues dan Nagan raya. Sedangkan Banjir genangan paling banyak terjadi Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Singkil dan Simeuleu.

Sedangkan Banjir bandang menerjang Kabupaten Aceh Tenggara sebanyak 2 kali kejadian, yang paling banyak berdampak korban terjadi pada tanggal 28 Maret 2019 lalu yakni sejumlah 406 rumah milik 509 KK rusak akibat terendam banjir.

Melihat adanya bencana Longsor di Sukabumi awal tahun 2019 ini, di Aceh juga terjadi peningkatan potensi terjadinya Longsor seperti yang sudah terjadi sebanyak 46 kali,  di berbagai kebupaten seperti paling banyak terjadi di Gayo Lues dan Aceh Barat. Sedangkan Puting beliung terjadi 95 kali paling banyak di Kota Bireuen dan Aceh Utara dan terakhir abrasi paling banyak terjadi di Aceh Barat Daya.

Dampak yang ditimbulkan akibat bencana di Aceh Tahun 2019 antara lain banyaknya masyarakat yang terdampak bencana sebanyak 23.855 KK/, 88.113 jiwa, pengungsi sebanyak 1.206 Jiwa, yang meninggal dunia akibat bencana sebanyak 6 orang, dan Luka-luka sebanyak 11 orang.

Kerugian akibat bencana yang paling banyak dialami oleh Kabupaten Aceh Selatan sebesar Rp.19 miliar, disusul Aceh Tenggara Rp. 15 M,- Aceh Utara Rp. 11 miliar, Aceh Singkil RP. 7 miliar dan Aceh Jaya sebesar Rp. 6 miliar.

Kebakaran masih menjadi bencana yang paling banyak terjadi, terutama kebakaran pemukiman. Sebenarnya kebakaran pemukiman hanya dapat diminimalkan dengan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat misalnya dengan memeriksa instalasi listrik yang sudah tua yang menjadi sebab utama kebakaran.

Sedangkan penyebab lainnya adalah perlu kewaspadaan dalam mengelola sumber panas di rumah tangga seperti mematikan kompor dan barang-barang eletronik yang harus diawasi dengan baik.

Kemudian dari sudut kerugian bencana banjir adalah mencapai rekornya termasuk kejadian banjir bandang yang menimbulkan paling  banyak kerugian baik kepada masyarakat maupun infrastruktur yang ada. Banjir paling banyak disebabkan meluapnya air sungai dan pembalakan liar yang menyebabkan banjir bandang.

Plt Gubernur Aceh telah menginisiasi agar sumber penyebab banjir perlu diidentifikasi untuk dilakukan studi kelayakan dan menyusun langkah-langkah untuk pelaksanaan secara bertahap. Beliau mencontoh apa yang dilakukan Belanda dengan perencanaan yang baik dan membutuhkan waktu seratus tahun untuk mewujudkannya.

“Aceh juga harus memulai walaupun butuh waktu lama tapi kita berusaha melakukan penyelesaian sehingga semua pihak fokus pada satu tujuan tersebut,” ujar Ir Nova Irinasyah MT pada satu kesempatan.

Sunawardi mengakui memang penanganan banjir banyak menemui kendala, pertama luasnya wilayah banjir yang harus dikendalikan, membutuhkan biaya yang besar dan sebagian besar sungai besar di Aceh berada di bawah kewenangan pusat.

“Belum lagi ini diperparah tata kelola lingkungan yang buruk, pembalakan liar dan pembakaran hutan dan lahan,” ungkapnya.

Beliau menambakan bahwa penanganan jangka pendek yaitu mempersiapkan desa tangguh dengan memasukan anggaran desa untuk kebutuhan kesiapsiagaan dan penanganan darurat menjadi prioritas BPBA saat ini.

BPBA juga merencanakanakan memperbanyak membangun shelter vertikal untuk korban banjir. Sedangkan penanganan masa darurat masih seputar pemenuhan kebutuhan masyarakat, sandang, pangan, kebutuhan air bersih dan huntara. Dalam hal kebakaran lahan dan hutan, cara yang paling baik adalah pencegahan dan penegakan hukum.

Beberapa kasus hukum yang sudah terjadi kemarin dianggap denda merupakan cara paling jitu dalam memberikan efek jera kepada masyarakat. Sebenarnya banyak hal dapat dilakukan untuk pencegahan kebakaran lahan seperti Polhut lebih intensif lagi dalam melakukan patroli menjelang musim kemarau, memperkuat koordinasi dengan kepolisiandan TNI. [rel]

Komentar
Loading...