Bareskrim Tangkap Peretas Mesin ATM Bank

LayarSatu, Jakarta – Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri berhasil menangkap seorang peretas sistem perbankan ATM sebuah bank, berinisial CP (45) di Majalengka, Jawa Barat, 25 Juli 2019.

“Akhir bulan Juli, kami dari Direktorat Siber Subdit I telah mengungkap satu pelaku yang berinisial CP, pelaku melakukan ilegal akses terhadap salah satu ATM perbankan milik BUMN,” terang Kepala Subdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Dani Kustoni Jumat (2/8/2019).

Lanjut Dani, pelaku diduga melakukan peretasan terhadap mesin ATM. Tersangka CP diduga memodifikasi kartu ATM giro miliknya, sehingga dapat melakukan transaksi transfer terus-menerus.

“Uang yang berhasil diambil pelaku dari hasil transaksi ilegal adalah milik bank. Sehingga yang dirugikan adalah pihak bank,” katanya.

Sampai saat ini Polisi masih menyelidiki cara pelaku mengelabui mesin ATM sambil menunggu hasil laboratorium forensik (labfor).

“Sedang kita lakukan pemeriksaan di labfor, kita juga menyita laptop, CPU, rekening bank, dan lainnya, akan kita lakukan pemeriksaan di labfor, untuk menentukan apakah ATM yang digunakan ada modifikasi atau tidak. Kalau ATM bersifat biasa tentunya akan terbaca oleh perbankan,” terang mantan Kapolres Cirebon Kota.

Dari tangan tersangka, Polisi berhasil menyita empat unit telepon genggam, dua unit laptop, empat buku rekening bank, tujuh buah kartu ATM, bukti transfer sebesar Rp 5,5 juta. Kemudian, lima buah perhiasan, empat unit mobil, satu unit motor, dan sejumlah pembukuan untuk perusahaan atas nama PT Kalimas Bintang Pratama.

Tersangka CP dikenakan Pasal 46 jo Pasal 30 dan/atau Pasal 49 jo Pasal 33 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau Pasal 362 KUHP dan/atau Pasal 82 dan 85 UU Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana dan/atau Pasal 3, 4, 5, dan 10 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 64 KUHP

Dengan ancaman hukuman bagi pelaku adalah pidana penjara maksimal selama 20 tahun dan denda maksimal Rp 10 miliar. [tribrata]

Komentar
Loading...