Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap 4 Perempuan, Ketua KNPI Banda Baro Ditangkap

LayarSatu, Lhokseumawe – Ketua Pengurus Kecamatan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Banda Baro, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh berinisial NZ (34) tahun, diciduk polisi atas dugaan pelecehan seksual, Sabtu (23/11/2019).

Tidak tangggung-tanggung, pelecehan seksual dilakukan terhadap empat orang korban, yakni FY (39 tahun), FTA (17), NA (17), yang tidak lain merupakan ibu, anak dan ponakan serta CM (17) tetangga dari 3 korban tersebut, yang telah berlangsung sejak tahun 2017 hingga 2019.

Dalam rentang waktu tersebut, para korban tidak menceritakan perihal tersebut kepada siapapun, termasuk melaporkannya ke pihak polisi, perbuatan yang dilakukan tersangka NZ dianggap sebagai aib, dengan harapan seiring waktu NZ akan berubah.

Alih-alih berubah, perbuatan tidak terpuji oleh NZ itu dilakukan lebih dari sekali terhadap  para korban.

Korban CM dalam keterangannya mengaku mengalami pelecehan seksual sebanyak dua kali sepanjang tahun 2019, yang terjadi di rumah nenek korban.

Kali pertama, tersangka NZ hanya meraba bokong korban. Dan kali kedua, tersangka NZ mendatangi rumah nenek korban dengan alasan menagih iuran sumur bor milik desa.

Saat itu, nenek korban tidak berada di tempat. Kesempatan itu dimanfaatkan NZ untuk mengulangi perbuatan tidak terpuji tersebut, dimana saat korban hendak CM keluar rumah untuk mengambil air, terlebih dahulu korban masuk ke kamar untuk menggunakan jilbab.

Saat masuk ke kamar, korban diikuti oleh tersangka NZ. Korban sempat terkejut dan berusaha menghindar. Namun tersangka NZ mengajak korban mengobrol dengan mengatakan ‘ini kamar adik ya’, korban menjawab ‘ya’.

Seketika tersangka NZ langsung memeluk korban dari arah samping dan merebahkannya di tempat tidur dan menindihnya, serta mencium korban dengan paksa.

Korban CM sempat berontak dan berteriak meminta tolong kepada adik sepupunya yang sedang nonton TV di ruang tamu. Tersangkapun melepas korban dan sempat merayu korban dengan mengatakan ‘kok adik dah cantik kali ya sekarang. Cium dulu sekali lagi’. Tersangka NZ langsung pergi meninggal korban setelah mendaratkan ciuman di pipi korban.

Hal itu diungkap Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kanit PPA, Ipda Lilis Suryani, dalam komferensi pers yang digelar di Mapolres setempat, Kamis (5/12/2019).

Sementara korban lainnya, yakni FTA mengaku pelecehan yang dilakukan NZ terhadap dirinya terjadi sekali yaitu pada hari Minggu tahun 2017 di rumahnya. Saat itu tersangka mendatangi rumah korban, dimana korban sedang tiduran di kamarnya,. NZ langsung menyeruak masuk ke dalam kamar dan menindih korban.

‘Ngapain kamu di sini? Sekarang keluar dari kamar saya,’ pinta korban. NZ pun saat itu langsung keluar kamar korban sambil tertawa dan tersenyum.

Sedangkan korban NA mengaku mengalami pelecehan sebanyak satu kali, yakni pada tahun 2019 yang terjadi di rumahnya di Desa Alue keureunyai, Kecamatan Banda Baro, Aceh Utara. Saat itu tersangka NZ yang duduk di belakang korban, bangkit berdiri dan langsung mencium korban di bagian pipi.

Korban NA sempat berkata ‘ngapain kamu cium saya. Kayak orang bodoh. Pulang kamu sekarang’.

NZ tidak menjawab, dan tersenyum dan mengatakan ‘alah hai dek’ sembari duduk memainkan handphone. Dalam waktu yang bersamaan, handphone ayah korban berbunyi, seketika tersangka NZ langsung keluar meninggalkan rumah korban.

Lain halnya pengakuan FY (34 tahun). Ia mengalami pelecehan sebanyak satu kali di tahun 2018. Saat itu tersangka NZ masuk secara diam-diam langsung memeluk dirinya dari belakang.

Korban sempat berontak dengan cara menyikut badan tersangka dengan mengatakan ‘jangan kurang ajar kau ya. Sama orangtua kamu aja mau’. Dan dijawab oleh tersangka ‘alah…gitu aja marah’ dan langsung keluar dari rumah korban.

Kasus pelecehan oleh NZ terhadap dirinya tidak diceritakan kepada siapapun, termasuk melaporkannya ke pihak berwajib. Karena korban beranggapan itu aib, dan berharap NZ berubah dengan perbuatannya.

Namun, mengetahui anak dan ponakannya juga mendapat perlakuan tidak senoh oleh NZ, korban FY pun lantas melaporkannya ke pihak berwajib.

Berdasarkan pengakuan korban dan bukti lainnya, meski dalam pemeriksaan tersangka menyangkal semua perbuatannya, ia dijerat dengan Pasal 47 Qanun Aceh No 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat dengan ancaman 90 kali cambukan atau denda paling banyak 900 gram emas murni atau penjara laing lama 90 bulan.

Terpisah, Ketua DPD KNPI Aceh Utara, Agus Hidayat Thaib yang dimintakan tanggapannya, Kamis (5/12/2019) siang, mengatakan, proses rekrutmen pengurus KNPI melalui beberapa persyaratan, antara lain sehat jasmani, rohani, memiliki etika yang baik. Jika nantinya yang bersangkutan terbukti secara meyakinkan melakukan perbuatan itu, maka akan segera diberikan sanksi berat, yakni pemecatan dirinya sebagai Ketua PK KNPI Banda Baro. (BIM)

Komentar
Loading...