Akibat Demonstrasi yang Berakhir Rusuh di Papua Barat, 25 Fasilitas Publik Rusak

LayarSatu, Jakarta Dampak dari aksi massa yang terjadi di Manokwari dan Sorong, Papua Barat, sebanyak 25 fasilitas publik rusak. Aksi ini sendiri dipicu oleh adanya informasi persekusi terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

“Untuk sementara di Sorong ada hampir 15 fasilitas publik yang mengalami kerusakan, kemudian Manokwari 10 fasilitas publik yang rusak,” jelas Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen. Pol. Dr. Dedi Prasetyo, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (20/8/2019).

Karo Penmas menjelaskan, hingga saat ini proses pendataan perihal kerusakan akibat demonstrasi tersebut masih terus dilakukan. Selain itu, aparat Polri dan TNI beserta pemerintah daerah fokus untuk melakukan pembersihan terhadap sisa-sisa demonstrasi. Agar kegiatan masyarakat dapat kembali berjalan normal.

“Tugas Polri, TNI, dan Pemda juga melaksanakan pembersihan pohon-pohon tumbang di Manokwari dan sisa-sisa pembakaran ban, dibersihkan hari ini.  Sehingga diharapkan hari ini semua aktivitas masyarakat betul-betul berjalan dengan normal,” jelas Jenderal Bintang Satu itu.

Hingga Selasa siang, polisi mengatakan bahwa kegiatan masyarakat di Jayapura, Papua dan Manokwari, sudah berangsur normal. Namun, di wilayah Sorong masih terdapat kegiatan unjuk rasa yang diikuti sekitar 500 orang. Pihak Polda dan TNI serta pemerintah daerah terus melakukan komunikasi dengan massa.

“Di Sorong memang masih ada kegiatan masyarakat di satu titik massanya 500 orang, masih dalam negosiasi dan komunikasi secara intens antara aparat keamanan, baik TNI, Polri, dan seluruh tokoh masyarakat di sana,” pungkas Dedi.

Kendati demikian, secara keseluruhan, situasi di wilayah Papua kondusif. Sejauh ini, polisi telah mengidentifikasi sekitar lima akun yang diduga menyebarkan konten provokatif hingga menyebabkan kericuhan di Papua. Konten-konten tersebut berisi berita bohong atau hoaks terkait penangkapan 43 mahasiswa Papua di Surabaya.

Salah satu hoaks tersebut mengungkapkan bahwa ada mahasiswa yang meninggal. Konten yang dibangun di media sosial dan tersebar diantara warga Papua dapat membangun opini bahwa peristiwa penangkapan mahasiswa Papua adalah bentuk diskriminasi. [tribrata]

Komentar
Loading...