Polisi Terima 1.005 Kasus Penyebaran Hoaks Selama Pemilu 2019

LayarSatu, Jakarta – Markas Besar Polri merilis data kejahatan siber selama pelaksanaan Pemilu tahun 2019.  Polisi menerima 2.800 laporan masyarakat seperti ujaran kebencian, hoaks, dan pengancaman, sebanyak 1.005 laporan diantaranya berkaitan dengan Pemilu 2019.

“Direktorat Siber Bareskrim Polri di seluruh Indonesia, sudah terima kurang lebih 2.800 perkara siber selama 2019.  Di mana 35 persen dari perkara itu atau kurang lebih 1.005 perkara itu merupakan kasus-kasus yang berkaitan ujaran kebencian, hoaks, berita palsu, pengancaman,” jelas Penyidik Siber Bareskrim Polri, Kompol Ronald Sipayung di Kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/8/2019).

“Hingga Juni lalu, jumlahnya mencapai 1.005, sebagian besar sangat berkaitan erat dan berhubungan langsung dengan pesta demokrasi yang kita laksanakan,” tegas Kompol. Ronald Sipayung.

Perwira menengah Siber Bareskrim Polri menjelaskan, berdasarkan hasil analisa cyber crime, penyebaran hoaks mulai mengalami peningkatan sejak November hingga Desember 2018. Bahkan, hingga putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa pilpres, penyebaran hoaks di media sosial masih cukup signifikan.

“Kita lihat mulai November-Desember 2018 itu sudah tampak tren peningkatan pada tahapan kampanye, sampai dengan putusan pun masih terjadi berkaitan kasus-kasus hoaks, ujaran kebencian, berita bohong, yang berkaitan dengan pemilu,” terang penyidik Siber Bareskrim Polri.

Mantan Wakapolres Belawan ini mengatakan, penyebaran hoaks terkait Pemilu 2019 banyak ditemukan di media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Meski masih ada, namun penyebaran hoaks dan laporan masyarakat mulai mengalami penurunan setelah putusan MK.

“Baru satu dua bulan ini terjadi penurunan signifikan. Jadi kita saat ini sudah tidak terlalu disibukkan dengan kejadian-kejadian berkaitan dengan Pemilu,” ujar Kompol Ronald Sipayung

Adapun platform yang paling banyak digunakan untuk melakukan hal ini (hoaks), adalah facebook. Selain itu, yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia, yang kedua twitter, dan ketiga IG, jelas Ronald. [tribrata]

Komentar
Loading...