Bea dan Cukai Aceh Gagalkan Penyelundupan 25 Kg Sabu Asal Malaysia

LayarSatu, Lhokseumawe  – Satuan Tugas Patroli Terkoordinasi Kastam Indonesia Malaysia (PATKOR KASTIMA) 25 A Bea Cukai berhasil menggagalkan penyelundupan narkotika jenis sabu seberat 25 kilogram dalam satu operasi yang dibackup Polri dan TNI AL.  Narkotika tersebut diangkut bersama 59 ton bawang merah dari Malaysia menuju perairan Indonesia, yakni Aceh melalui jalut laut.

Petugas juga menangkap 3 pria yang membawa narkotika dan bawang illegal tersebut dengan sebuah kapal, di perairan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.  Setelah dilakukan penggeledahan, petugas menemukan satu tas berisi narkotika jenis sabu seberat 25 kilogram.  Barang bukti serta tersangka diserahkan kepada Satuan Narkoba Polres Lhokseumawe, Kamis (22/8/2019) sekira pukul 16.00 Wib setelah mendarat melalui Pelabuhan Krueng Geukuh.

“Penangkapan berawal dari informasi dan patroli yang dilakukan oleh Satgas Patkor Kastima 25 A.  Petugas mengamankan satu kapal yang diduga mengangkut barang illegal dari Malaysia.  Setelah kita tangkap dan geledah, Petugas menemukan sejumlah 59 ton bawang merah dan 25 kg sabu-sabu yang akan diselundupkan ke Aceh,”terang Kepala Kanwil Bea Cukai Aceh, Safuadi, dalam konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe, Senin (26/8/2019).

Wadir Resnarkoba Polda Aceh AKBP Heru Suprihasto, membenarkan telah digagalkannya penyelundupan narkotika jenis sabu-sabu oleh Satgas Patkor Kastima.  Aksi pelaku yang merupakan sindikat narkoba jaringan internasional tersebut dengan modus mengangkut bawang merah ilegal.

Awalnya 3 tersangka, yakni SA (44) warga Kuala Langsa, NK (50) warga Lapang, Aceh Utara dan N (28) warga Lapang, Aceh Utara telah ditangkap dalam kapal yang mengangkut bawang merah dan sabu.  Setelah itu dilakukan pengembangan, akhirnya seorang tersangka lagi berhasil ditangkap, berinisial AI (38) warga Seunuddon, Aceh Utara.

Saat diperiksa, AI mengaku barang haram tersebut sebelumnya sudah ditawarkan kepada ML dan AS, dengan perjanjian ia mendapatkan imbalan Rp2,5 juta per bungkusnya setelah barang diterima.

Selanjutnya, kedua pembeli, yakni ML dan AS menjumpai SA untuk membicarakan ongkos membawa sabu dari Malaysia ke Aceh.

Dalam pertemuan tersebut disepakati ongkos angkut sebesar Rp15 juta per kilogramnya. Dimana ML yang memesan sebanyak 15 Kg memberikan uang muka (DP-red) sebesar Rp15 juta dan SA yang memesan 10 Kg memberikan uang muka sebesar Rp10 juta. Sisanya akan dibayarkan setelah barang diterima.

Hal itu diungkap Wakil Direktur (Wadir) Satres Narkoba Polda Aceh, AKBP Heru Suprihasto didampingi Kakanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Aceh, Safuadi, Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan dan Mayor Ridwan dari Lanal Lhokseumawe, dalam konferensi pers yang digelar di Mapolres Lhokseumawe, Senin (26/8/2019) siang.

Dijelaskan AKBP Heru Suprihasto, saat ini pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap dua tersangka lainnya, yakni ML dan SA yang dinyatakan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Sementara empat tersangka yang lebih dulu ditangkap bersama barang bukti berupa 25 bungkus paket sabu, 3 bungkus paket sabu kecil seberat 4 gram yang disembunyikan di dalam speaker, 59 ton bawang merah, passport, buku pelaut, tabungan, uang Ringgit dan boat, diamankan di Mapolres Lhokseumawe guna proses lebih lanjut, sebutnya.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 115 Ayat (2) Juncto Pasal 112 Ayat (2) Juncto Pasal 132 Ayat (1) Sub Pasal 114 Ayat (2) Juncto Pasal 112 Ayat (2) Jucnto Pasal 132 Ayat (1) Undang Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman pidana seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun, dan denda paling sedikit Rp1 miliar dan paling banyak Rp10 miliar, terang Wadir Satres Narkoba Polda Aceh, AKBP Heru Suprihasto.[red]

Komentar
Loading...