Nasib KTNA Lhokseumawe, Luput dari Perhatian Pemerintah

LayarSatu, Lhokseumawe – Sejauh ini Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Lhokseumawe seakan berjalan sendiri tanpa ada perhatian pihak pemerintah.  Sebab kelompok dimana tempat bernaungnya para petani ini, harus berupaya sendiri.  Pihak KTNA hanya diperlukan jika butuh pendataan yang dibutuhkan pemerintah.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua KTNA Kota Lhokseumawe, Azhar, yang merasakan seberapa besarnya kepedulian pemerintah daerah dan perusahaan yang ada di Kota Lhokseumawe kepada lembaga yang dirinya pimpin.

Padahal, KTNA merupakan mitra strategis pemerintah daerah dalam berbagai macam program ketahanan pangan. Sebab dalam KTNA jelas menganyomi para petani yang ada di setiap daerah, termasuk Kota Lhokseumawe. Apalagi petani merupakan garda terdepan untuk mencukupi pemenuhan sumber pangan bagi masyarakat.

“Meski begitu, masih sangat banyak kita lihat dan temui, petani dan nelayan di Lhokseumawe yang hidup di bawah garis kemiskinan,”ungkap Azhar.

Ditanya bagaimana perhatian pemerintah daerah dan perusahaan yang berada di Kota Lhokseumawe terhadap nasib petani? Ketua KTNA mengatakan, kepedulian dan perhatian terhadap petani dinilainya masih sangat minim.  Sehingga petani harus berjalan sendiri, untuk berusaha meningkatkan kesejahteraan mereka.

“JIka ditinjau dari sisi lahan, masih sangat luas untuk dilakukan pengembangan.  Apalagi selama ini, ada beberapa produk unggulan yang sudah terkenal dari Lhokseumawe.  Baik itu dari pertanian tanaman, maupun dari sektor perikanan laut maupun darat.  Tapi masalahnya, untuk mengoptimalkan lahan dan peningkatan produksi, kita butuh modal.  Serta adanya perhatian dari pemerintah daerah,” terang ketua KTNA LHokseumawe.

Dengan jujur ketua KTNA LHokseumawe mengatakan, kalau perhatian dari perusahaan besar disekitar Lhokseumawe bisa dikatakan sangat minim.  Padahal petani sangat butuh modal, baik itu untuk mencari bibit, proses pemeliharaan serta untuk pencarian pasar.

“Jujur Saya katakan, kalau pemerintah butuh kita kalau perlu data.  Saat itu baru petugas dari dinas mendatangi kita pihak KTNA.  Sementara untuk pendampingan dan lainnya hingga proses penjualan hasil produksi, ini juga harus dipikirkan sendiri oleh petani tanpa bantuan dari pemerintah,”paparnya.

Seharusnya, lanjut Azhar, dibutuhkan perhatian dan sinergitas dari semua pihak.  Baik itu pemerintah, perusahaan (swasta) sebagai upaya dalam meningkatkan taraf hidup petani dan nelayan. Hal ini juga terungkap dalam sebuah pertemuan sejumlah KTNA beberapa kabupaten/kota di Aceh yang digelar oleh pihak provinsi.

“Saat itu sekitar November tahun lalu, sejumlah KTNA di kabupaten/kota hadir.  Mereka didampingi oleh pihak pemerintah masing masing, yang diwakili dinas terkait.  Namun, Kota Lhokseumawe tidak di dampingi oleh pihak pemerintah.  Dari sini bisa kita nilai, bagaimana perhatian mereka (pemerintah) kepada petani. Padahal jelas, dalam pertemuan tersebut disebutkan, guna peningkatan taraf hidup dan usaha petani, dibutuhan dukungan dari pemerintah daerah,”terang Ketua KTNA ini.

Selain itu, membaca berita adanya bantuan bibit ikan nila dari PT PAG kepada Walikota Lhokseumawe hari lalu, pihakya sangat kecewa.  Sebab bantuan itu ditabur di waduk Jeulikat, bukan untuk kelompok tani masyarakat. Dimana manfaatnya akan lebih banyak bagi peningkatan perekonomian petani. [red]

- Advertisement -

Komentar
Loading...