Pengrusakan APK dan Terkoyaknya Deklarasi Pemilu Damai

LayarSatu, Lhokseumawe – Sejumlah alat peraga kampanye, berupa spanduk dan baliho para calon legislatif terlihat mulai terjadi pengrusakan.  Kondisi ini tentunya patut menjadi perhatian semua pihak, terutama pihak berwenang.  Mengingat kondisi ini tentu dapat membuat proses pesta demokrasi yang sudah diambang pintu terganggu.

Rusaknya alat peraga mulai terlihat di kawasan Kota Lhokseumawe dan terjadi terhadap baliho dan spanduk sejumlah caleg dari beberapa partai.  Sejauh ini, belum ada satu pelaku pengrusakan yang terungkap. Namun jika terus dibiarkan, ini akan menjadi preseden buruk bagi proses demokrasi di Kota Lhokseumawe yang telah sepakat menanda tangani pemilu damai.

“Ini dapat mencederai kesepakatan Pemilu Damai yang ditanda tangani dan disepakati bersama.  Semua pihak tentunya harus menjaga kondisi damai dalam menyambut pesta demokrasi ini.  PIhak penegak hukum juga diminta lebih intensif dalam melakukan patroli.  Begitu juga halnya semua pendukung Caleg dan pasangan Capres-Cawapres, untuk dapat saling menjaga,”terang Ridwan seorang warga Lhokseumawe.

Adanya aksi atau kejadian pengrusakan APK ini dibenarkan oleh pihak Panwaslih Kota Lhokseumawe dan juga pihak kepolisian.  Kedua instansi ini juga sangat menyannyangkan hal ini masih terjadi.  Dimana seharusnya, menyambut pesta demokrasi, semua rakyat harus merasa senang dan dalam kondisi damai, bukan sebaliknya.

“Benar, Kita memang mendapatkan laporan adanya pengrusakan Alat Peraga Kampanye di Kota Lhokseumawe.  Bahkan ada pengaduan yang sampai ke kantaor Panwaslih.  Tetapi sejauh ini, laporan tersebut tidak dapat ditindak lanjuti dalam bentuk penindakan pelanggaran Pemilu. Karena seluruh laporan yang diadukan tidak memunuhi syarat formil dan materil,”ujar Teuku Zulkarnaen, Ketua Panwaslih Kota Lhokseumawe.

 

 

Alasannya tidak dapat ditindak lanjuti, karena laporan yang disampaikan memang tidak cukup unsur menurut aturan yang berlaku. Seperti contohnya, siapa yang menjadi saksi, siapa pelaku pengrusakan APK tersebut. Itu merupakan suatu ketentuan yang harus dipenuhi, agar sebuah pelanggaran dapat dilakukan penindakan.

Lanjut Teuku Zulkarnaen, memasuki bulan kelima masa kampanye Pemilu serentak tahun 2019. Para caleg dan pasangan calon presiden memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan dirinya. Yakni dengan cara mensosialisasikan diri mereka yang salah sataunya dengan pemasangan Alat Peraga Kampanye (APK) dilokasi yang telah ditentukan.

Namun belakangan ini ada hal yang sangat disayangkan, yaitu munculnya tindakan pengrusakan APK  milik para caleg di beberapa lokasi dalam wilayah Kota Lhokseumawe.  Tindakan ini tentu sangat disesali dan disayangkan oleh Panwaslih.

Menyikapi hal ini dan juga merupakan bagian tugas pihaknya, Panwaslih dalam berbagai kesempatan dalam rangka menjalankan tugas pengawasan, telah melakukan sosialisasi tentang dampak serta sanksi terkait pengurusakan APK. Salah satunya adalah oknum yang melakukan pengrusakan APK akan dikenakan ancaman pidana selama 2 tahun dan denda maksimal Rp24 juta, sesuai pasal 280 Undang-Undang nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

“Panwaslih Kota Lhokseumawe pada kesempatan ini sekali lagi mengimbau,  serta mengajak seluruh lapisan masyarakat, untuk menyambut Pemilu tahun 2019 dengan senang. Tentunya dengan tanpa perlu melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum.  Stop merusak APK, jaga kedamaian, mari kita kawal Pemilu ini sama-sama,” imbaunya.

Kepada para Caleg juga diimbau agar dalam memasang APK yang harus diperhatikan dan wajib diinstruksikan kepada timsesnya adalah, pasang APK di tempat yang dibenarkan dan telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Masyarakat dan parpol jangan takut untuk melapor, penuhi syarat formil dan materil. Jika terpenuhi unsur, maka Panwaslih Kota Lhokseumawe melalui Gakkumdu akan memproses dan menindak secara tegas para pelaku pengrusakan APK tersebut,” ucapnya.

Sementara itu, Kapolres Lhokseumawe melalui, Kabag Ops, Kompol Ahzan, mengatakan, seharusnya kondisi pengrusakan APK tidak lagi terjadi.  Sebab alam demokrasi kita sudah maju. Namun hal ini sangat disayangkan masih terjadi.  Fanatisme yang berlebih, sehingga menimbulkan kebencian terhadap lawan politik, dapat membutakan mata demokrasi.

“Jika ada pelanggaran Pemilu, silahkan melaporkan ke Panwaslih, untuk nantinya  akan ditindak lanjut ke Gakkumdu. Personel kita sejauh ini masih terus melakukan patroli rutin, untuk menjadi kondisi tetap kondusif,” ujar Ahzan. [red]

- Advertisement -

Komentar
Loading...