TIm Gabungan Pakar Siap Gelar Konferensi Pers Kasus Novel Baswedan 

LayarBerita, Jakarta  Penyidik Polri telah bekerja keras untuk menyelesaikan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Bahkan dalam waktu dekat ini, Tim Gabungan Pakar (TGP) juga akan menggelar konferensi pers. Hal ini diungkap Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo, Senin (15/7/2019).

“Polri berkewajiban dan berkomitmen untuk secepatnya menyelesaikan kasus itu, ini komitmen Kami. Sebelum kasus itu kedaluwarsa,” ungkap Brigjen Pol. Dedi Prasetyo di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Tanah Abang, Jakarta Pusat seperti dilansir tribratanews.go.id.

Tim Gabungan, lanjutnya telah dibentuk untuk membantu menangani kasus penyerangan Novel Baswedan. Kemarin, mereka menyampaikan hasil temuan-temuan kepada Kapolri.

“Mungkin kalau enggak Selasa atau Rabu tim itu (TGP) akan menggelar konferensi pers membeberkan hasilnya secara konferhensif temuannya selama 6 bulan melakukan investigasi,” jelas Jenderal Bintang Satu ini.

Nantinya, Penyidik Bareskrim dan Polda Metro Jaya akan menindaklanjuti temuan-temuan dari Tim Gabungan Pakar. Intinya, Polri tidak akan terburu-buru menyelesaikan suatu kasus.

“Tidak bisa, harus dibandingkan yang multi level. Banyak kasus yang sudah diselesaikan kepolisian termasuk kasus besar dan banyak kasus juga yang masih dijalankan,” tegas mantan Kapolres Lumajang tersebut.

Sebagai contoh bom di Kedutaan Besar Filipina. Polri butuh waktu lebih dari lima tahun untuk mengungkap kasus itu. Bahkan, Polri mengungkapnya setelah memeriksa salah satu napiter.

“Itu dari hasil pemeriksaan sampai ke sana baru terungkap siapa sebenarnya pelaku bom,” tegas Dedi.

Dalam kasus Novel Baswedan, Polri berkomitmen akan mengungkap secara terang benderang. Hanya saja, semuanya membutuhkan waktu.

“Proses pembuktiannya adalah secara scientific, karena apa? karena setiap case memiliki karakter yang berbeda-beda boleh dikatakan minimnya alat bukti merupakan tantangan bagi Polri untuk mencari alat bukti lainya agar itu menjadi terbuka,” tutup Dedi Prasetyo. [tribrata]

- Advertisement -

Komentar
Loading...